Selected Published Articles

2007

Agus Suwage dan Hantu Peradaban

PERUPA Agus Suwage, sekali lagi mengecoh dan mempermainkan kita, dengan memindahkan citraan para tokoh legendaris dunia ke atas kanvas dan melukiskannya kembali sedemikian rupa secara unik.Akan tetapi, kali ini beda. Wajah-wajah itu tanpa citra wajah dan tubuhnya sendiri, sebagaimana sering muncul dalam karya-karya Suwage sebelumnya. Potret para tokoh dunia dengan nuansa hitam-putih itu begitu mengundang tanya dan mengganggu.Terpampang wajah Chairil Anwar, Nehru, Monalisa, Soekarno, Rembrant, Marilyn Monroe, Mahatma Gandhi, Yaser Arafat, R.A. Kartini, Elvis, Pramoedya Ananta Toer, Frida Kahlo, Salvador Dali, Bruce Lee, dan lainnya. Para tokoh itu telah wafat, tapi masih terasa benar pengaruhnya dalam kehidupan kita sekarang. Semuanya merokok……..( Lanjut…...)

2006

Mitologi Yunani, Perang dan Maskulinitas

Seperti juga dongeng Mahabarata di ranah India, Yunani adalah sumbernya mitos. Kisah Kuda Troya atau Hercules merupakan drama kehidupan manusia yang menjadi mitos dalam kebudayaan di Barat. Ada ribuan buku tentang mitos Yunani yang diterjemahkan dalam puluhan bahasa, bahkan beberapa sempat di layar lebarkan. Bagi banyak seniman, mitos Yunani kemudian dijadikan titik keberangkatan untuk membincangkan tragedi manusia. Melalui benda dan citraan yang penuh erotika lagi puitik, Hamad Khalaf, seorang perupa, mengajak kita merenungi tentang perang lewat mitologi. Di Galeri Nadi, Jakarta, mulai 14 hingga 24 Juli 2006, Hamad, kelahiran Kuwait tahun 1971, mengajak kita seolah memasuki ruang museum dengan benda-benda arkeologis dari peradaban kuno dan benda dari zaman modern yang kita kenali…(Lanjut…..)

Ledakan dari Ranah Kelabilan

Suasana yang ingar-bingar dan panas terasa di Galeri Tony Heats, London. Pasalnya, lukisan-lukisan yang tergantung di dalam ruang yang tak begitu besar memancarkan citra ledakan-ledakan dengan jilatan-jilatan bunga api yang dahsyat, seperti pada penggambaran di komik-komik aksi atau dalam film-film laga Hollywood. Tetapi, mungkinkah ledakan-ledakan ini seakan membuat orang tercenung pada persoalan-persoalan perang atau konflik dunia saat ini? (Lanjut…)

On Filippo Sciascia’s Works

Oleh : Rifky Effendy

Di tahun 1936, Walter Benjamin (1892 – 1940), menulis suatu essay : The Work of Art in The Age of Mechanical Reproduction, yang sangat mempengaruhi pemikiran praktek seni dan kajian budaya kontemporer. Dalam essay itu dikemukakan, bahwa kemampuan teknologi reproduksi citraan secara masinal membawa dampak besar, bukan hanya terhadap tradisi dan nila-nilai intrinsik dalam praktek seni lukis (barat), tetapi juga secara signifikan telah menggeser cara pandang kita terhadap apa yang kita lihat dan kita pahami. Pudarnya aspek “aura” dalam seni bukan hanya karena bergesernya penilaian kita terhadap estetika seni tetapi sekaligus juga memberikan jalan bagi estetika yang baru dan praktek seni. Terutama menyangkut nilai ke-autentik-an dalam praktek seni modern. (Lanjut…) (English)

 

2005

Dari Bali Biennale 2005

Pertama kalinya sebuah perhelatan dua tahunan (biennale) seni rupa di gelar Bali. Mulai tanggal 26 November 2005 hingga 4 Januari 2006. Dalam sejarah kemunculan dan perkembangan seni rupa modern Indonesia, praktek seni di Bali, memang nyaris terisolasi dari kecamuk perdebatan dan eforia nasionalisme yang lebih mengarah pokok soal politik kebudayaan yang diserukan intelektual muda dalam mencari bentuk identitas ke-Indonesia-an sebagai kesadaran nation (Lanjut..)

Dari Biennale Jogja ke VIII 2005

Barangkali baru pertama kalinya begitu banyak biennale dalam satu wilayah dan kurun waktu yang berdekatan bahkan dengan waktu berbarengan. Publik seni rupa di Indonesia baru saja di suguhkan CP Biennale ke dua di bulan September hingga awal Oktober lalu yang berakhir dengan sedikit masalah dengan suatu kelompok Islam radikal. (Lanjut…)

 

2004

Indonesian Contemporary Art and the Development of Art Infrastructure:
Influences, Appropriations, and Tensions

1.
In the 19th-century Netherlands Indies, a native blue-blooded member of the élite named Raden Saleh Bustaman was sent to study painting in his dynastic realm, Amsterdam, by colonial officials. Raden Saleh (1814–1880) was a talented painter who was highly skilled in painting and copying the Western style. He was gloriously ‘found’ by A. A. J. Payen, a Belgian painter working for the Dutch colonial government. For 22 years, Raden Saleh lived and traveled to the centers of modern European culture: the Netherlands, Italy, Austria, Germany, and France. There he gained a better and deeper knowledge of the styles in European paintings, like those created by the romantic artists Delacroix and Géricault. This, and his encounter with European contemporary art discourses, brought about some inner tensions within him. Upon his return from Europe, Raden Saleh became a widely influential artist, also respected by the European painters living in Java at the time. Many of his paintings decorated important colonial offices or were in the collections of high officials. (Continue..)

Amazon.com: On Cultural Influence: Books: Steven Rand and others

Essays by: Gregory Burke, Felipe Chaimovich, Chaos Y. Chen, Melissa Chiu, Wystan Curnow, Bart De Baere, Ana Devic, Rifky Effendy, Michèle Faguet,

TRANSJAKARTA : Exploring Scene Inside Jakarta

 
 
As the biggest city in Indonesia, Jakarta could be considered an example of management failure for what it provides its more than 10 million inhabitants. Not to mention the daily traffic of 3 million informal migrant workers daily from the nearby towns. The chaotic contemporary Jakarta makes access difficult to its ever expanding and segregated districts. The development got even more disorganised during the economic recess resulting from the collapse of the New Order regime. Effective transportation, such as internal rail links, hasn’t been developed, meaning streets are the sole means for public transportation. The number of private vehicles is rocketing compared to the building of parking lots and traffic management infrastructure(Continue)

Dunia (Seni) Benda-benda dan Refleksi Budaya Kontemporer

Sejak beberapa tahun terakhir, perhelatan seni rupa kontemporer kita dimeriahkan oleh berbagai pameran yang berlingkup seni kriya kontemporer dan kadang beberapa menyebutnya seni obyek. Saya pernah menulis tentang pameran bertajuk “Object” yang berlangsung di Fabriek Art Project, Bandung (almarhum), 22 Juni-10 Juli 2002, di media ini. Pernah juga menyaksikan pameran di Galeri Lontar yang menghadirkan beberapa pameran yang bernuansa obyek, seperti perupa Handiwirman dan pameran kelompok pematung seperti Yuli Prayitno, Yusra Martinus, dan Hedi Hariyanto setahun lalu. Di Yogya ada Galeri Benda, yang secara tegas hanya memamerkan seni bernuansa obyek dan kriya kontemporer. Lalu bagaimana kita mewacanakan dan memetakan seni ini dalam perkembangan seni rupa Indonesia? (Lanjut..)

2003

Melihat Dunia Lewat Mata Perempuan

SEJAK dimulainya praktik (seni rupa) fotografi di Indonesia, belum banyak muncul fotografer perempuan. Walaupun ada, lebih banyak hanya sebentuk penyetaraan-penyetaraan pada cara pandang dunia lelaki. Seolah menjawab tantangan itu, maka tujuh perupa foto perempuan, yang rata-rata berumur di bawah 30-an, menampilkan berbagai ragam karya fotografi yang sepenuhnya berupaya merepresentasikan “dunia perempuan”.(Lanjut..)

2002 

Tantangan Fotografi dalam Era Rekayasa Digital

(Sebuah Refleksi)

SETELAH lebih satu setengah abad sejak diperkenalkan dan dikembangkan, fotografi telah memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi gerak kebudayaan manusia modern terutama sepanjang abad ke-20. Fotografi adalah revolusi dalam cara pandang manusia (the way of seeing/vision). Fotografi bukan hanya menciptakan citraan yang begitu akurat, rinci dan obyektif dalam mengapropriasi realitas. Lewat aparatnya: kamera dan proses cetak kimiawi film negatif, yang begitu cepat. Fotografi juga memberikan dampak yang lebih melebar. Tiap citraan fotografi bisa digandakan tanpa batasan jumlah salinan (copy), terlebih meriapnya pengembangan reproduksi mekanik, penyebarluasan citraan fotografi semakin luas. Fotografi menjadi model ”seni” yang dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat secara massal, lewat berbagai lembaga, seperti media massa, penerbitan buku. Fotografi menjadi simbol dari semangat budaya modern: demokratisasi dunia citraan (sebelum diciptakan fotografi, seni lukis hanya bisa dimiliki kelas tertentu dalam hirarki masyarakat)…( Lanjut )

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: